PENYELAMATAN GENERASI BANGSA UNTUK GENERASI YANG HILANG

01/25/2010

Sebagai kelompok subordinatif dari kelompok atau kalangan yang lebih superior, anak jalanan berada pada posisi yang memerlukan perhatian semua pihak, tak kercuali masyarakat umum. Sementara itu pada saat bersamaan, mereka seolah kaum yang termarginalkan hanya merusak jalanan.

Dampak krisis ekonomi yang telah menghantam bangsa Indonesia , hingga saat ini masih melumpuhkan sektor regional. Pemutusan hubungan kerja (PHK) dan kurangnya lapangan pekerjaan mempersulit akses kesejahteraan. Resesi ini juga menambah bobot angka kemiskinan. Salah satu indikasinya adalah terbatasnya ruang gerak usaha bagi kalangan akar rumput. Tak heran jika pada akhirnya banyak orang tua dari kalangan ini mengakibatkan pemenuhan hak dan kewajiban terhadap anak-anaknya, terutama dalam pendidikan. Al hasil, anak-anak mereka terlantar dan berjibaku di jalanan.

Kawanan anak jalanan adalah anak usia sekolah (6-19 tahun) yang telah putus sekolah. Ironisnya mereka terpaksa bekerja di jalanan. Sebuah dunia yang sangat membahayakan bagi usia mereka. Mulai dari ancaman tindak kejahatan, kekerasan, kecelakaan, bahaya kesehatan akibat polusi udara, sengatan matahari, guyuran hujan, sampai tindak kejahatan sexualitas. Pendek kata mengganggu perkembangan fisik, psiskologi, emosional bahkan moral mereka sebagai generasi bangsa ini.

Meningkatnya populasi anak terlantar jalanan daritahun ke tahun, mengisyaratkan bahwa perhatian terhadap mereka tidak kunjung nyata. Mereka seperti ditakdirkan untuk menderita dan menanggung kemasgulan demi kemasgulan dari kebijakan yang dikeluarkan pemerintah dan sunyi dari perhatian komponen masyarakat.

Anak jalanan sebenarnya kehilangan tujuan hidup yang akan membuat mereka menikmati kesejahteraan hakiki. Statisnya kualitas hidup anak terlantar disebabkan pekerjaan yang mereka geluti tidak sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Terkadang mereka mengamen dengan suara pas-pasan, atau meminta-minta dengan cara memaksa sehingga mengganggu ketertiban pengguna jalan. Tepatnya mereka belum mendapatkan pendidikan yang menunjang hidup.

Pada hakekatnya masyarakat kita secara potensial berisiko mengalami kehilangan generasi “the lost generation” ketika orang tua mereka mengabaikan pendidikannya. Situasi ini membuat anak telantar menelantarkan pendidikan dan ditelantarkan oleh pendidikan.


Pertanyaan Mendasar Yang Kemudian Mengemuka :

Siapa Yang Bertanggungjawab Atas kehidupan Mereka ?

Konsep Dan Langkah Seperti Apakah Yang Tepat Bagi Mereka ?


Mengingat tujuan hidup sangat penting bagi jiwa setiap individu serta bagi anak bangsa negeri ini;  maka harus terus diprovokasi. Mereka harus terus ditanamkan semangat perubahan, taqwa sebagai landasan utama, percaya diri, bekerja keras, tekun, berjiwa besar dan pantang menyerah. Pendidikan immaterial akan mampu membangun kualitas jiwa anak bangsa negeri ini menjadi bangsa yang besar yang memiliki harga diri dan bangsa yang dapat diperhitungkan di JAGAD KHATULISTIWA.

SAVE THE NATION’S CHILDREN FOR THE LOST GENERATION


KEBANGKITAN SUATU NEGERI IMPIAN DI JAGAD KHATULISTIWA

01/21/2010

Situasi kondisi zaman yang penuh dengan kemelut membuat masyarakat merasa kurang nyaman dalam memperoleh perlindungan hukum di negeri sendiri. Ternyata proses penegakan hukum dari tingkatan bawah hingga pada jalur pembinaan di Lembaga pemasyarakatan mengalami proses yang pajang hingga membuat hati kita menjadi jenuh. Masyarakat yang telah mengalami proses pembinaan di Lembaga Pemasyarakatan tidak mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah, mulai dari kapasitas tempat penampungan bagi para warga binaan di LP/Rutan hingga kelayakan kehidupan di dalam penjara. Semua yang menjadi over load (kelebihan kapasitas) memgurangi kinerja dalam pengawasan dalam proses pengawasan di LP/Rutan. Belum lagi dalam proses sosialisasi dalam hal pengembalian ex narapidana dalam kehidupan masyarakat.

Bila kita mengkaji lebih jauh secara analisa logika. Hukum di Indonesia telah diatur sedemikian rupa dan di bentuk serta dibuat dengan biaya yang tidak sedikit. Hampir setiap tahun DPR-RI mengeluarkan Undang-Undang, dan setiap lemaga independent di Indonesia banyak sekali didirikan. Akan tetapi semua itu belum dapat mengatasi permasalahan-permasalahan hukum yang terjadi di negeri ini.Seandainya Hakim di negeri ini menerapkan dan menjalankan dalam melakukan proses penetapan hukuman bagi para pelanggar hukum yang mana masa hukumannya jatuh vonis di bawah satu tahun tidak perlu dimasukan dalam penjara seperti yang tertuang dalam KUHP pidana pasal 14 (a) mungkin hal tersebut dapat mengurangi kepadatan jumlah penghuni tahanan di LP/Rutan. Apalagi dalam meberikan Pembebasan Bersyarat bagi tahanan yang sudah melakukan masa tahanannya sudah melakukan 2/3 dari  masa tahanan maka akan lebih terjaga hak-hak asasi manusia bagi para nara pidana. Walau bagai manapun mereka para napi adalah warga negara Indonesia yang memiliki hak yang sama menurut Undang-Undang dan aturan yang berlaku.

Tragedi Cicak dan Buaya, merupakan aksi unjuk gigi para aparat penegakan hukum di Indonesia. Aksi arogansi ini timbul akibat dari kepentingan suatu kelompok yang terusik wilayah kerjanya atau yang jelas jobnya (pekerjaannya) dalam penanganan suatu perkara. Yang pada akhirnya bermuara pada satu titik permasalahan mengenai kasus Korupsi atau terkenal dengan perampokan bank yang dilakukan oleh pemilik bankya sendiri.

Dalam proses penyelesaiannyapun di dalam gedung megah dan mewah milik rakyat sangatlah pelik. para elit politik dengan indahnya bermain dengan kata-kata berdasarkan logika, perdebatan demi perdebatan mengalir kencang dalam ruangan sidang mengalir bagaikan air dan film drama yang dipenuhi trik dan intrik yang membuat masyarakat lelah hati dalam suatu penantian yang tidak tahu hasil akhir cerita yang akan berakhir dengan suatu peristiwa tragedi yang penuh dengan tandatanya besar.

Disaat pemerintah sedang terfokus untuk menyelesaikan proses kasus-kasus yang berhubungan dengan hukum, mayoritas masyarakat Indonesia mengalami tragedi fenomena alam yang mengincar kelangsungan kehidupan mereka. Masyarakat Indosesia harus menghadapi gejolak alam yang sedang mengamuk di awal tahun 2010 tanpa adanya bantuan dari para pemimpinnya. Sedangkan wadah suatu lembaga telah dipersiapkan oleh pemerintah dalam penanggulangan korban bencana di negeri ini, namun lmbaga tersebut belum juga dapat mencapai target maksimal dalam sasaran wilayah yang terkena bencana.

Begitu kompleksnya permasalahan yang sedang dihadapi oleh ibu pertiwi ini. Hingga membuat masyarakat tidak tahu lagi apa yang harus mereka perbuat. Negeri ini banyak bangunan yang terdapat departemen bila digambarkan suatu hukum ketatanegaraan telah lengkap. Namun sangatlah disayangkan semua itu hanyalah pajangan tanpa berfungsi dan dapat dirasakan oleh masyarakat.

Semua peristiwa yang terjadi di negara ini benar-benar membuat penduduk seisi negeri ini menjadi lelah dan letih. Sadar ataupun tidak kita telah jatuh terjebak ke jurang problematika yang nyaris tak tertembus nalar dan logika, jika semua peristiwa tersebut di jadikan cambuk pelajaran untuk membentuk kepribadian manusia Indonesia yang bersih, piawai, jujur dan terpuji, yang pada akhirnya akan membawa kita kepijakan awal proses menuju puncak kejayaan Bangsa Indonesia.

Indonesia merupakan negeri khatulistiwa yang memperoleh sinar matahari dan curah hujan yang cukup. Beriklim tropis tidak terlalu panas. Menganut 2 musim, kemarau dan hujan, telah membentuk struktur tanah gembur dan subur, sekaligus memberikan suatu yang khas bagi warganya; brkulit sawo matang, mudah berubah, gampang beradaptasi, sesekali terlihat putih, kadang menguning, bisa juga memerah, bahkan menghitam membuat tak bosan mata memandang, lalu kita biasa menyebutnya si hitam manis, hitam-hitam buah manggis, biarpun hitam kupandang manis.

Indonesia merupakan salah satu keajaiban dunia yang memiliki ribuan fenomena alam dengan berbagai keunikan yang berada didalamnya. Laut ang membentang dari Sabang samapai Merauke tekstur bagian atasnya akan membiru terkena panulan sinar matahari berkolaborasi dengan air laut yang menangkap warna langit biru. Jadilah ia seperti itu membiru tanpa ada seseorang yang mewarnai dan putih berada pada bagian yang paling bawah dari tekstur itu karena jauh dari jangkauan sinar matahari.

Karena itulah kita bangga menjadi orang Indonesia. Syukur kepada Tuhan atas limpahan rahmat dan karunia yang Tuhan anugerahkan kepada diri dan negeri kita. Tak sedikitpun tidak punya maksud membanggakan diri, apalagi bersikap arogan dan temperamen. Bentuk dan warna diperoleh karena pemberian alam semesta. Dengan istilah lain habitat makhluk hidup sangat bergantung dan sesuai dengan iklim sistem dan kondisi si mana dia berdiam.

Bangsa Indonesia harus menyadarkan dirinya kebentuk permainan yang sesungguhnya, tenteng posisi dan peran yang semestinya diemban. Alam telah menunjukkan ke arah itu. Kondisi iklim yang sedng akan menempatkan bangsa ini beerada di posisi pertengahan. setiap yang berada ditengah berfungsi sebagai alat penyeimbang dan menjaga kestabilan.

Mentalitas yang tangguh, kepercayaan diri yang tertinggi, nyali dan keberanian tidaklah hanya dapat diperoleh dari ideologi dan doktrin. Keberadan negeri Indonedia yang berada tepat pada bentang khatulistiwa yang memiliki struktur tanah yang subur untuk bercocok tanam, pemandangan yang indah bagai surga di dunia yang meliputi deretan gunung-gunung yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, termasuk perbedaan suku, warna kulit, semuanya ada di negeri ini hidup secara berdampingan dengan tingkat toleransi keberagaman.

Namun apalah artinya semua itu jika tidak bisa mensejajarkan diri dengan bangsa kita sendiri, menyuburkan sesubur bumi yang ditempati, potensi diri sesuai dengan poensi alam ag dimiliki. Dengan demikian terjadilah hubungan sinergis antara alam dan manusianya, tercapailah tatanan hidup dan kehidupan yang makmur dan sejahtera.

Negeri Indonesia tempat kita lahir dan dibesarkan. Negeri yang pernah dijajah selama tiga setengah abad, di pandang rendah dengan sebutan Inlander dan panggilan Indon yang menghinakan atau dicap sebagai bangsa kuli atau budak. amun sebenarnya kita memiliki poensi besar untuk menjadi yang terbaik di dunia ini.

Bangsa Indonesia harus meyakini bahwa hari eso Bangsa Indonesia akan lebih baik daripada ari kemarin. Kita tahu itu akan terjadi kalau semua orang Bangsa Indonesia melakukan peranana yang masing-masing memainkan peranan penting dalam menuntun Bangsa ini kembali menjadi negeri yang memegang hukum dan prinsip hukum dengan mengedepankan keadilan.

Tiadak Ada Seorangpun Yang Bisa Memiliki
Kehidupan, Kemerdekaan, Atau Kemungkinan Kebahagiaan
Kecuali Bila Negaranya
Merdeka , Hidup, Dan Bahagia
Bangkitlah Bangsaku………………Jayalah Negerik
u


WANITA SANG PENGENDALI PROJUSTITIA

01/14/2010

Hidup dalam penjara tentu terbayang menjalani keseharian dengan suram. Namun kesuraman itu setidaknya bakal menjadi ringan bila Anda menghuni Rumah Tahanan Perempuan Pondok Bambu, Jakarta Timur. Tim Pemberantas Mafia Hukum mendapatkan ruang tahanan mewah dan berfasilitas lengkap bak hotel di Rutan Perempuan Pondok Bambu, baru-baru ini.

Masalahnya, tak semua ruangan penjara berfasilitas semewah itu. Artinya hanya narapidana tertentu yang bisa menempati ruangan spesial itu. Besar dugaan terjadi diskriminasi antara sesama narapidana. Seorang penghuni sel mewah tersebut mengaku mendapatkan barang-barang di selnya atas pemberian orang lain.

Namun tak tertutup kemungkinan para tahanan membayar sejumlah uang kepada petugas rutan untuk mendapatkan fasilitas mewah ini. Hingga berita ini disusun, pihak Rutan Pondok Bambu enggan berkomentar perihal fasilitas mewah para tahanan elite ini.

Hotel prodeo yang biasa diidentikkan dengan kata penjara kini justru bisa lebih mewah dari hotel yang sebenarnya. Setidaknya itulah yang tercermin dari ruang penjara tempat narapidana kasus penyuapan, Artalita Suryani ditahan. Di Rumah Tahanan Wanita Pondok Bambu, Jakarta Timur, perempuan yang akrab disapa Ayin itu mendapatkan kemudahan mengurus perusahaannya.  Artalyta memimpin sebuah perusahaan yang penting dan bergerak di bidang pelayanan publik, yaitu bisnis kapal penyeberangan penumpang. Dia menjelaskan, Artalyta mempekerjakan antara 50 ribu hingga 80 ribu karyawan.

Terungkapnya fasilitas mewah yang diberikan kepada terpidana kasus suap itu. Jauh dari bayangan orang tentang ruang tahanan, sel berukuran delapan kali delapan meter tempat Ayin meringkuk dilengkapi kulkas, televisi layar datar, hingga penyejuk ruangan. Bukan cuma itu, ada sebuah ruang untuk bersantai dan berkaroke tak jauh dari sel Ayin.

Kenyataan ini pula yang mengejutkan tim Pemberantas Mafia Hukum saat melakukan inspeksi mendadak di Rutan Pondok Bambu. Tim yang baru dibentuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini pun meradang. Adanya kongkalikong antara narapidana dengan lapas maupun pejabat negara diduga menjadi penyebab kemewahan yang diterima Ayin.

Terungkapnya suatu kejadian ini bukanlah menjadi suatu rahasia umum lagi dikehidupan hotel prodeo yang berada di negara kita ini. Ini merupakan suatu kasus kecil yang terungkap. Suatu Lembaga yang diberikan suatu kewenangan dalam hal melakukan pembinaan bagi warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan melakukan kesalahan besar. Apakah dengan kejadian belakangan ini seluruh jajaran aparat PROJUSTITIA sudah banyak menjadi oknum.

Hancurnya sumber daya manusia yang berperan di institusi PROJUSTITIA sangatlah mengiris hati kita semua. Mereka telah menjual harga diri mereka dan bangsa ini lebih dari pada manusia yang paling hina di dunia. Yang sangat di khawatirkan oleh kita semua sebagai warga negara yang mempunyai kedudukan yang sama dihadapan hukum adalah oknum petugas yang bersembunyi dibalik kebesaran seragam dan pangkat serta kedudukan yang mempunyai wilayah otonom dibawah kewenangannya.


SEPAKTERJANG ANGGODO MENGKEBIRIKAN DAN MELECEHKAN PRO-JUSTITIA

01/09/2010

SELAMATKAN HARGA DIRI BANGSA DARI LILITAN

GURITA MAFIA HUKUM

Anggodo bersikukuh berlindung di balik pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang menghentikan kasus dua pimpinan KPK, Bibit Samad Rianto dan Chandra Hamzah. Anggodo berpendapat dari instruksi Presiden Yudhoyono tersebut dirinya yang terlibat kasus Bibit-Chandra seharusnya juga tidak perlu diperiksa oleh KPK.

Staf Khusus Presiden Bidang Hukum Deny Indrayana juga dengan tegas menyatakan Anggodo akan tetap diperiksa. Sebab penghentian kasus Bibit dan Chandra tidak otomatis membuat kasus Anggodo ikut diberhentikan.

Anggodo dimintai keterangan tentang dua hal. Pertama, upayanya menghalangi penyelidikan KPK dalam kasus dugaan korupsi pengadaan Sistem Komunikasi Radio Terpadu di Departemen Kehutanan. Kedua, soal percobaan suap ke pimpinan KPK untuk menyelamatkan kakaknya, Anggoro Widjojo. Hingga kini, Anggoro merupakan buron KPK dalam kasus korupsi di Dephut.

Upaya sikap Anggodo dalam melepaskan diri dari jeratan hukum tidaklah mudah. Dampak daripada apa yang telah ditimbulkan dari serangkaian perangainya membuat aparat penegak hukum bangsa ini menjadi pendekar diarena adu kekuatan melalui poses hukum.  Hingga membuat lupa para aparat penegak hukum sebagai “PENGANYOMAN” masyarakat di negeri tercinta ini.

Sedangkan keberadaan dan status dari pelaku dari kasus ini yang sebenarnya “Anggoro Widjoyo” tidak terjamah hukum sama sekali bahkan masih menikmati udara segar dari pelosok bumi ini. Bangsa ini selalu menjadi ladang segar bagi para perampok uang rakyat di negeri tercinta ini. Sedangkan masyarakat kecil selalu hidup dengan tidak luput dari penegakan Undang-Undang dan peraturan pemerintah (hukum), mereka selalu menjadi korban

dengan dalih penegakan hukum dalam kasus pelanggaran-pelanggaran ringan. Inilah delema kehidupan di negeri tercinta ini.

Semua kejadian ini merupakan pembelajaran bagi segenap bangsa ini untuk dapat lebih dewasa dalam berikap profsional dengan hati yang bersih dan jiwa yang tenang


BADAI UNTUK PRITA MULYASARI DI AWAL TAHUN 2010

01/08/2010

Melalui penasihat hukumnya, Kantor Pengacara Risma Sitomurang,  Rumah Sakit (RS) Omni Internasional Alam Sutra – Serpong – Tangerang  Selatan mengajukan permohonan kontramemori kasasi atas perkara perdata pencemaran nama baik Prita Mulyasari (32) ke Mahkamah Agung, Jumat (8/1/2010) pukul 16:00 WIB. Pengajuan surat itu diserahkan kepada panitera perdata di Pengadilan Negeri (PN) Tangerang, Jalan TMP Taruna, Kota Tangerang. Kepala Humas PN Tangerang Arthur Hangewa membenarkan adanya pengajuan surat tersebut.

Ternyata upaya yang telah menjadi kesepakatan pada akhir tahun 2009 sudah tidak lagi menjadi kesepakatan yang dipatuhi. Sedangkan menurut sumber berita dimedia massa elektronik maupun koran Uang yang terkumpul pada Prita Mulyasari sudah  disumbangkan ke lembaga kemanusiaan. “Yatim Piatu” dan NGO  ( nongovernment organization) yang sudah punya tujuan.

Terkadang masyarakat yang memperjuangkan sesuai dengan Undang-Undang Perlindungan Konsumen dalam memperjuangkan haknya sukar untuk menikmati di negeri yang memproduksi Undang-Undang tersebut. Semoga “Dewi Keadilan” masih tetap berada didalam jiwa para penegak hukum dengan melihat duduk persoalan melalui kaca mata hukum tanpa harus mengesampingkan dan mematikan hati nurani.


KEBANGKITAN BANGSA “OPLOSAN” YANG MEMILIKI HARGA DIRI

01/07/2010

Selama masa reformasi kita berusaha keras untuk memperbaiki diri. Namun tetap kita belum mampu menyediakan lapangan pekerjaan yang memadai bagi warga bangsa ini. Angka pengangguran formal masih berada di angka sembilan persen. Namun senyatanya, angka itu jauh lebih tinggi lagi karena sebagian dari warga masyarakat memilih untuk bisa bertahan dengan bekerja di sektor informal.

Apakah semua kenyataan yang kita lihat itu menunjukkan bahwa kita telah gagal melaksanakan pembangunan? Bukan. Kenyataan itu hanya sekadar untuk menggugah kita semua bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk memperbaiki kehidupan bangsa dan negara ini.

Kesenjangan antara yang kaya dan miskin semakin melebar. Itu memang bukan hanya fenomena di Indonesia, itu merupakan fenomena yang terjadi di seluruh dunia. Ketika krisis terjadi justru kesenjangan itu semakin melebar.

Tugas kita bersama ke depan adalah bagaimana mengembalikan harga diri dari bangsa ini. Jangan biarkan kita menjadi bangsa yang mudah menengadahkan tangannya. Kita harus mampu membuat lebih banyak warga yang bisa memberi.

Anggaran yang efektif atau tidak tergantung dari sinergi antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, yang mana sebagai penyelenggara Pemerintahan dalam pelaksanaan pengelolaan Keuangan Negara. Dalam hal ini PKPA – Pemegang Kuasa Penggunaan Anggaran agar supaya melaksanakan dan meningkatkan pengelolaan anggaran APBN dan APBD yang tercantum dalam DIPA dengan lebih transparan, akuntabel, dan lebih berorientasi pada hasil yang bisa memakmurkan masyarakat.

Jadikan bangsa ini, bangsa yang memiliki harga diri bukan sebagai bangsa yang “OPLOSAN” agar masyarakat dapat merasakan arti sebuah kesejahteraan ekonomi tanpa merasakan teriliminasi dalam kehidupan hingga membuat kondisi yang tidak stabil dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.


IBU KOTAKU SAYANG; IBU KOTAKU MALANG

01/07/2010

Ratusan rumah di kawasan  Jakarta , Kamis (7/1) petang, terendam banjir. Banjir diakibatkan oleh guyuran hujan yang melanda Kota Jakarta kurang lebih selama tiga jam.

Hujan lebat juga membuat lalu lintas sepanjang Jalan Gatot Subroto hingga Pancoran macet total. Kemacetan juga terjadi di kawasan Jalan M.T. Haryono hingga Cawang Atas. Lalu lintas di sepanjang jalan tersebut semrawut, bahkan jalur bus Transjakarta pun dipadati kendaraan pribadi dan sepeda motor. Tak sedikit dari pengguna jalan yang lebih memilih berjalan kaki untuk menembus kemacetan. Hingga berita ini diturunkan diduga telah terjadi banjir di kawasan Cawang, Jaktim. Bahkan, underpass atau terowongan Cawang turut tergenang.

Cuaca buruk ini terjadi akibat pengaruh munculnya fenomena El Nino pada musim penghujan. Cuaca tak bersahabat ini diperkirakan bakal terus berlangsung hingga Februari mendatang. Informasi ini dikeluarkan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kamis (6/1) dalam siaran pemberitaan di media massa elotronik.

Ibu Kota Negara yang menjadi cermin dan pusat perhatian duniapun selalu menghadapi permasalahan yang sama dari tahun ke tahun. Banyaknya anggaran yang dikeluarkan tidaklah mencukupi untuk dapat mengatasi permasalahan banjir. Terbitnya suatu peraturan perundang-undangan mengenai Amdalpun hanya sebuah buku yang tersimpan yang menjadi susunan kelengkapan di dalam perpustakaan tanpa mau menegakkan apa yang telah menjadi suatu kesepakatan bersama. Akhirnya masyarakat selalu pada pihak yang merugi. Karena alam tidak mengenal kebijakan suatu kompromi akan suatu kelompok yang tidak pernah mau mengedepankan kepentingan dampak lingkungan kehidupan.